Ketika Kematian Yang Mereka Tunggu

Malam itu, ada dua orang manusia tua yang sedang membicarakan kesemrawutan dunia. Mulai dari sosial, politik sampai ketidak pastian negara. Mereka berdua bosan, bosan dengan kebinaran dunia yang hanya semenatara ini, bosan dengan negara yang hanya mengedepankan egonya, dan bosan telah banyak mendengar janji palsu para penguasa.

Hingga pada akhirnya, mereka pun berbicara tentang masa depan setelah kehidupan dunia. Yakni Kematian dan pertanggung jawaban pada Tuhan.
Ketika Kematian Yang Mereka Tunggu
Foto via: travel.detik.com
"Kang, apa sampean sudah siap menghadap Tuhan? Apakah sudah mewanti-wanti anakmu setelah kepergianmu nanti?

Sudah, kang. Aku sudah siapkan sendiri perkakas kematianku, mulai dari patokan dan kain kafan. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu Malaikat Maut saja. Kalau sampean?

Aku juga sudah, tapi yang aku risaukan saat ini, anak-anak sedang merebutkan harta warisanku, padahal aku belum mati. Sungguh, mereka itu buta dunia. Gimana menurut sampean kang?"

Ya, begitulah mereka yang muda-muda. Tak tahu mana yang benar dan salah. Mereka hanya ingin menang sendiri, dengan egonya sendiri. Aku juga ikut do'akan, semoga anak-anakmu diberikan hidayah dari Allah.

Oh iya, mbah. Nanti kalau kamu duluan, tolong aku kabari keadaan di akhirat sana ya?! Biar aku persiapan juga, biar nggak kaget saat bertemu bidadarinya. hehee

Begitulah percakapan singkat mereka, mereka tak mau tahu lagi kesemrawutan dunia dan keparadoks-an hidup. Mereka kini hanya menyiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan Tuhan Semesta Alam.

Karena bagi mereka, kematian adalah matahari yang pastinya akan terbit esok. Maka, kematian bukan lagi misteri yang entah kapan akan terjadi. Bukan pula sebuah teka-teki yang entah bisa terbukti.